Langit malam yang biasanya dihiasi oleh bulan dan ribuan bintang yang menemaninya serta kerlap-kerlip lampu pesawat terbang yang terkadang melintas, digantikan oleh awan mendung kelam yang menumpahkan air ke tanah. Membuat udara malam menjadi berlipat-lipat lebih dingin dari biasanya.
Di sebuah rumah, tampak sesosok gadis kecil yang berumur sekitar delapan tahun tertidur pulas di depan TV yang masih menyala. Gadis kecil itu tidur ditemani oleh bantal dan selembar selimut tipis yang menutup tubuhnya. Rambut lurusnya yang panjang sebahu tergerai berantakan menutupi wajahnya. Tubuhnya kurus kering dibalut kulit warna kuning langsat. Samar-samar terlihat wajahnya yang cantik dengan raut muka yang polos dan tak berdosa. Gadis kecil itu bernama Nindy, lengkapnya Nindy Cantika. Dia adalah adik perempuanku.
Aku pandangi wajahnya lekat-lekat. Sekarang ini dipikiranku melintas kenangan masa laluku dengan Nindy. Memori itu berputar-putar di kepalaku. Memori tentang kisah lalu saat kami bersama. Kisah kami yang bahagia. Dalam ingatanku masih melekat erat peristiwa saat adikku lahir delapan tahun yang lalu tanpa mendapat bantuan dari bidan. Karena ternyata si bidan salah alamat. Aku juga masih ingat saat dulu setiap hari setelah pulang sekolah aku selalu menggendong adikku dan mencoba untuk menidurkannya. Masa-masa itu memang sangat indah bagai bunga mawar merah yang baru mekar. Tapi tiba-tiba saja petir menyambar dihatiku. Hatiku seperti ditikam oleh ribuan belati. Rasanya perih tak tertahankan. Sakit sekali rasanya mengingat perlakuanku tadi pagi padanya.
Pagi tadi matahari tidak bersinar sepenuhnya karena tertutup awan mendung tipis. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi, tapi aku masih tidur lelap dikasur. Ibu membangunkanku dengan kasar.
“Hey bangun... Cepat bangun sudah jam 6! Kamu sekolah tidak?”, katanya setengah berteriak padaku.
“Oo... iya-iya. Jam berapa ini?”, jawabku. Aku segera bangun sambil mengambil handuk dan segera bergegas ke kamar mandi.
Kurang dari 30 menit aku sudah siap berangkat ke sekolah. Sudah 5 hari ini aku harus mengantar adikku pergi ke sekolahnya sebelum aku naik angkot ke sekolahku. Aku sering kesal bila harus mengantar Nindy karena aku harus berjalan cukup jauh dari rumah ke sekolahnya. Aku biasanya berangkat jam 6 pagi tapi sekarang jam sudah menunjukkan pukul 6.30, aku sudah kesiangan untuk ke sekolah. Ibu menyuruhku agar aku tetap mengantar adikku ke sekolahnya.
“Ini lho adikmu dianter ke sekolah!”, katanya.
“Haa... Sudah siang bu, nanti aku ndak dapet angkot. Ibu aja lho ya anterin Nindy”, kataku.
“Kamu itu disuruh anterin adiknya ke sekolah saja ndak mau!”, ucapnya setengah emosi kepadaku.
“Halah...”, keluhku. Dengan setengah hati aku mengantar adikku.
“Kamu berangkat sendiri kan bisa Nin, sekolahmu deket kan.”, ucapku mengeluh. Nindy terdiam.
“Ibu bisanya nyuruh-nyuruh aku terus. Ngganterin sendiri ndak mau.”, ocehku.
Selama perjalanan aku terus saja mengeluh dan hatiku bertambah kesal setiap kali ada angkot yang melintas dihadapanku. Di tengah perjalanan ada angkot yang yang jaraknya tidak terlalu jauh di belakangku. Rasa kesal yang sejak tadi aku simpan meluap-luap. Dengan gelap mata aku melepas adikku untuk berangkat ke sekolah sendirian setelah aku menyeberangkannya ke sisi lain jalan raya.
“Itu ada angkot aku mau naik. Aku antar kamu sampai sini. Kamu bisa kan jalan ke sekolah sendiri?”, kataku kasar. Nindy tetap terdiam dan berjalan menuju ke sekolahnya.
Aku langsung naik ke angkot dan mengambil tempat duduk dekat pintu. Angkot berjalan pelan karena masih mencari penumpang. Saat angkot melintas, aku melihat Nindy berjalan seorang diri ke sekolah. Kepalanya menunduk, aku melihat wajahnya yang muram. Perasaan kesalku kini berubah menjadi penyesalan dan perasaan miris saat aku melihat Nindy. Bagaimana bisa aku tega membiarkan anak berumur delapan tahun berjalan sendirian tanpa teman menuju ke sekolahnya yang jaraknya lumayan jauh. “Ya Allah... Kakak macam apa hamba ini?”, kataku dalam hati. Hati dan mataku memanas, kuusap mataku yang berair.
Aku tahu, bagi Nindy aku bukan sekedar kakak perempuannya, tapi aku adalah idolanya. Nindy sangat senang meniruku, dia meniru semua perilaku dan tindakankanku yang baik maupun yang buruk. Nindy selalu ingat kepadaku saat dia memilki sesuatu yang dapat dibaginya kepadaku. Nindy adalah anak yang baik, dia sering menghiburku dengan perkataan dan perbuatannya yang lucu. Tapi tetap saja aku bersikap buruk kepada Nindy tanpa ada perasaan bersalah padanya. Aku sering memukulnya saat aku marah. Nindy selalu menjadi sasaranku amukanku jika aku dimarahi ayah dan ibu. Dia sering aku jadikan sebagai bahan untuk dipersalahkan.
Tess.. tanpa sadar air mataku jatuh ke pipi Nindy. Segera kuusap pipinya dan ku belai-belai lembut rambut adikku. Air mataku semakin deras menetes, perasaan bersalah muncul di hatiku. Perasaan kasih sayangku yang selama ini tertimbun telah muncul. Aku dekatkan mulutku ke telinganya.
“Bukan aku idolamu, tapi kaulah idolaku.”, bisikku kepadanya. Nindy yang sedang tidur seolah-olah mengerti perkataanku dan tersenyum manis kepadaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar